komandan: selamat pagi!
pasukan: pagi pagi pagi!!
itulah yel yel yang ku ingat selama kami (peleton utama) *termasuk gue* menjalani TC (training center) buat lomba PBB februari lalu di jogja sanah. Gak akan ngomongin prestasi atau apa, tapi aku pengin share lewat tempat ini pengalaman selama kurang lebih 1 minggu itu, kisah sedih, kisah senang, kisah bangga, kisah cinta dsb. Well, dengerin kisah gue...
Gak tau tepatnya kapan, yang jelas waktu itu mendekati ajang lomba bergengsi yaitu PBB se DIY jateng mungkin, kita ber 60 orang putra putri terpisah masing masing latihan dengan keseriusanya bersama bapak e-Nung (panggilan akrabnya) yang notabenya sebagai TNI purnawirawan, dulu beliau pernah menjadi guru di Akmil—Akademi Militer kepanjanganya. Oke kembali ke cerita...
Kala itu sudah H-7, bener bener sudah dilanda kepanikan, masalahnya kompleks, dari peserta, hingga dana, yang membuat kita terganggu latihanya. Kan SMA dituntut mandiri sehingga apa apanya juga sendiri. Tapi tiba-tiba banyak dari senior kita yang membantu dari segala aspek untuk tetap ngikutin lomba ini *bener bener kaya durian runtuh pokoknya*
Nah, waktu itu aku masih ingat betul, hari pertama kita latihan pagi, senior kita dateng sebut saja Sen Dhani dan Sen Taufiq. Dengan bergelarkan senior, mereka datang dengan penuh percaya diri, mental yang kuat untuk mengemban tugas dari para senior yang lain guna melatih kami lebih serius dan melatih kesatuan kami dsb. JEDDERR! Seperti bom meledak ketika latihan di alun alun dimulai. Komandan: Lencang kanan grak! “tanganya lurus! Kenceng!. “Tepleek “ *bunyitangan dipukul*. Dan hal itulah yang selalu ada saat latihan pertama bersama mereka. Serasa mimpi buruk, seakan kembali menjadai adik saat MOS maupun kegiatan rutin pramuka. Mendengar teriakan lantang dan tegas. #mau ditaroh mana muka guee, uda kelas XI coy.
Tapi aku mulai berfikir, beda jauh kok sama yang itu itu, ini lebih keren haha, aku lebih kebawa emosinya. Mungkin karena mereka senior teladan. Nah, itu hari pertama. Hari kedua juga masih sama,tapi lebih slow dikit. Kita mulai diajarin kekompakan nih, setiap kumpul kita harus ada kode dan membentuk letter U. *ngertikan?. Nah itulah pokoknya, aku jadi kerenlah, serasa sebagai densus atau koppasus yang lagi ngejalanin tugas mulia demi kemaslahatan bangsa, dan menjadikan di kehidupan sehariku waktu itu bener bener berubah drastis. #Termasuk berat badan gue#. Haha. Udah gitu, tiba tiba mas dhani usul kalo kita yang laki laki suruh cukur kaya taruna bareng bareng gitu. Dalam pikiranku sih keren keren aja, karena mungkin aku dah biasa dengan cukuran seperti itu. tapi aku harus mengorbankan kamaluanku #ehh mengorbankan maluku#bukan nama tempat—kepada teman teman karena lagi lagi PITAK GUE KALIATAAANNN!!! T.T Ya Tuhaan, apa salah sayaa? *sad song---
Aku inget betul, ketika kita dicukur. Waktu itu hari Jumat pagi, 7.30 di lapangan sekolah. kita yang laki laki baris dua dua nunggu antrian buat dieksekusi sang pencabut rambut. Selama pencukuran berlangsung sepertinya pihak sekolah agak interest dengan kegiatan kita yang gila ini. Baru pertama aku ikutan yang kaya ginian haha, Pencukuran udah selesai, dan tanggapan pertama orang orang sekolah adalah “kok banyak lampu taman ya?”—“sialan” dalam hati gue mangkel semangkel mangkelnya” menyakitkaaann T.T.. tapi tak apalah, itu adalah sensasi luarbiasa yang baru pertama aku dapat selama ini. Bersambuungg..... (ngantuk coy uda tengah malem)